Unsur Matematika dalam Motif Tatah Kain Tenun Bayan

(Sumber : Dokumentasi Langsung)
Kain tenun Bayan tidak hanya memiliki nilai estetika dan budaya yang tinggi, tetapi juga menyimpan unsur matematika yang menarik untuk dikaji. Salah satu contohnya dapat dilihat pada motif Tatah, motif tradisional yang terinspirasi dari bentuk pahatan (tatah) dengan susunan pola geometris yang berulang dan simetris.
Secara matematis, motif Tatah menampilkan simetri horizontal dan pola berulang yang tersusun secara konsisten sepanjang kain. Pola ini diulang dengan ukuran dan jarak yang sama, sehingga menciptakan kesan keseimbangan dan keteraturan visual. Prinsip pengulangan dan simetri ini menjadi dasar dalam pembentukan motif, sekaligus menunjukkan penerapan konsep matematika dalam seni tradisional.
Dalam proses pembuatannya, motif Tatah juga memiliki aturan khusus dalam perhitungan benang. Untuk satu kemben, penenun menggunakan 2 ikat benang dengan total 20 pelintir. Sementara itu, untuk menghasilkan satu kain utuh dibutuhkan 3 ikat benang atau setara dengan 30 pelintir. Adapun satu unit motif Tatah atau satu gutus terdiri dari 4 helai benang yang disusun secara berulang mengikuti pola yang telah ditentukan.
Perhitungan benang yang terstruktur ini menunjukkan bahwa proses menenun tidak dilakukan secara acak, melainkan berdasarkan perhitungan yang matang agar pola tetap konsisten dan simetris. Dengan demikian, motif Tatah pada kain tenun Bayan menjadi bukti nyata bahwa unsur matematika seperti simetri, pola, dan penghitungan jumlah dapat berpadu harmonis dengan nilai budaya dan kearifan lokal.